Sabtu, 17 November 2007

Investasi SI Kulit Bundar

“Olee.. olee.. olee... Celebrate the day!,” te­riak para penggila bola dari se­luruh pen­juru dunia yang tengah tum­plek blek di negeri orang Aria Jerman untuk menyaksikan, se­kaligus mem­berikan dukungan pada ne­garanya ma­sing-masing. Warna-warni cos­tum yang dikenakan oleh para sup­porter dari ber­bagi negara, termasuk ben­de­ra dan per­nak-pernik aksesorisnya me­nambah semarak suasana disana.
Ya...itulah World Cup, event olahraga em­pat tahunan terakbar di bumi ini yang se­lalu mencuri perhatian berbagai ka­la­ngan, baik itu pria, wanita, tua, muda sam­pai anak-anak sekalipun. Selama sebulan pe­nuh mata kita tergelisik untuk bisa te­rus mengikutinya dari hari ke hari. Khu­sus­nya para penggila bola dikawasan A­s­ia, sudah barang tentu harus merelakan se­bagaian waktu istirahatnya untuk bisa mengikuti seluruh per­tandingan dari babak penyisihan sampai final. Karena me­mang kita berada dibelahan lain dunia yang terpaut se­kitar lima jam dengan waktu Deutchland (Jerman.red).
Pertarungan dunia yang akhirnya menobatkan Italia se­ba­gai championi el mundo alias juara dunia sepak bola 2006, membuat se­luruh penggila bola, khususnya di Indonesia berdecak kagum atas keberhasilan Italia memboyong supremasi tertinggi per­sepakbolaan dunia itu menuju negeri tim Azzurri. Tetapi, kita ju­ga tidak harus menutup mata kita untuk memberikan a­presiasi yang baik bagi tuan rumah Jerman yang berhasil menyelenggarakannya dengan sangat baik dan penuh ke­san.
Keberhasilan Jerman dalam melaksanakan event terbesar se­pakbola itu, tentunya tidak serta merta akan bisa dicapai tan­pa adanya profesionalitas dan pengalaman Jerman dalam me-manage event tersebut. Dengan menyediakan berbagai hal yang mendukung event sejagat itu, seperti penginapan bagi pa­ra pemain dan penonton piala dunia, mercandise- mer­can­dise piala dunia, transportasi, akses komunikasi, sampai maaf, bis­nis prostitusi. Tak hanya itu penonton juga dimanjakan de­ngan berbagai pelayanan mudah nan menarik dalam me­nik­mati pertandingan.
Snack, soft drink dan makanan berat sesuai dengan me­nu masakan yang sengaja didatangkan dari berbagai ne­ga­ra, khu­susnya negara peserta piala dunia. Penonton me­mang sangat di­manjakan dengan pelayanan layaknya hotel berbintang li­ma. Stadion sebagai One Stop Shopping, segala kebutuhan penonton bisa tercukupi tanpa ha­rus mening­gal­kan stadion pertandingan. Satu yang mung­kin belum tersedia di­sana, yaitu nasi pecel karena Indonesia ma­sih belum be­run­tung untuk menjadi kandidat peserta piala du­nia 2006.
Hasilnya, Jerman meraup berjuta-juta Poundsterling ke­un­tungan dari World Cup 2006 besutannya. Waah …. gile be­neer. Jumlah uang sebanyak itu tentu­nya sangat menguntungkan sekali. Alih-alih, mungkin bisa untuk mengurangi in­fla­si dan mengurangi utang luar negeri ne­ga­ra kita yang semakin bejibun menjerat leher.
Memang harus kita akui sepak bola di da­ratan Eropa, Amerika Latin, Afrika dan se­­bagian negara Asia memiliki sistem ma­na­­gerial yang profesional dibarengi di­si­plin yang tinggi, baik itu managemen klub ataupun pemainnya. Oleh karena itu, disana bis­­nis sepak bola bisa dijadikan la­han be­ri­n­vestasi yang sangat me­ngun­tungkan, ka­­rena bisa mendatangkan ba­nyak sekali ke­­untungan.
“Bisa nggak ya di Indonesia?”. Siapa­pun orang di Indonesia akan susah untuk bi­­sa menjawabnya. Hendaknya mo­men­tum piala dunia yang baru saja tamat itu bi­­sa kita jadikan tempat berkaca dan bahan acuan bagi kita o­rang Indonesia, khu­sus­nya bagi mereka yang concern de­ngan masalah persepak­bo­laan di negeri ini. Bagaimana me­reka me-manage klub­nya, bagaimana dukungan serta a­presiasi para pe­non­ton­nya, dan bagaimana mereka men­jadikan bisnis Si Kulit Bun­dar ini bisa tetap exist dan se­makin baik tiap tahunnya.
Kalau boleh flashback ke jaman baheula’. Orang In­do­ne­sia masih banyak yang belum tau, kalau pada sekitar ta­­­hun 1830an Indonesia pada waktu itu bernama Hindia Be­landa di masa kolonialisme, mampu menembus perhelatan se­p­ak bola Julies Rimet Cup, alias piala dunia tempoe’ doeloe’ melawan CCCP atau Russia. Jadilah Indonesia se­ba­gai negara asia pertama dalam sejarah yang mampu masuk piala dunia. He­bat bukan..?
Moyang kita ternyata juga orang hebat sama dengan me­reka yang masuk World Cup 2006, dan kita boleh bangga ka­renanya. Namun, terlalu naif sekali jika kita hanya bisa men­jadi penonton World Cup selamanya. Spirit of Football yang ternyata sedari dulu sudah kita miliki harusnya di jadikan sebagai ti­tik tolak untuk memperbaiki persepakbolaan di Indonesia. Mu­lai dari klub-klub kecil di daerah, sampai Timnas kita sebagai ujung tom­bak si’ar kemajuan sepakbola Indonesia.
Saya yakin nantinya investasi “Si Kulit Bundar” di In­do­­nesia bila di-manage layaknya AC. Milan, Arsenal ata­u­pun seperti tetangga Asia kita Jepang, akan menjadi salah sa­­tu alternatif berinvestasi yang sangat menarik bagi sia­pa­­pun. Siapa tau juga, jika iklim persepakbolaan di In­do­nesia se­makin membaik akan melahirkan pemain yang ber­ku­alitas, just like Diego Maradona versi Indonesia.
Semoga wacana ini tidak sekedar menjadi wacana usang yang lewat begitu saja. Kita harus selalu melecutkan cam­buk pengalaman yang ada untuk terus belajar dan mem­per­baiki segala kekurangan agar mereka yang ada di belahan la­in dunia ini tidak lagi memicingkan matanya dengan per­se­­pakbolaan Indonesia. Viva Indonesia!
*) Penulis adalah Redaktur Pelaksana Majalah Provisi

Tidak ada komentar: