Kawasan yang terletak dekat dengan pantai itu, termasuk yang paling parah mengalami kerusakan. Puluhan rumah di wilayah itu rata dengan tanah."Masjid kami juga ambruk, entah di mana mau tarawih lagi," kata Murpin, 55, warga setempat. Warga lainnya, Edi Suprianto, 35 mengharapkan kemurahan hati para penyumbang, untuk memberi langsung bantuan kepada masyarakat.
"Jangan melalui pemerintah. Nanti malah enggak sampai ke kami. Saat ini, kami butuh tenda. Tak ada tempat untuk berteduh," keluhnya. (Sumber: Media Indonesia On-Line 14/9/07)
Tragis nian nasib Edi Suprianto dan tentunya para korban gempa Bengkulu lainya, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tidak bisa kita pungkiri tetapi hal tersebut memang betul adanya. Bagaimana kita menyikapi hal tersebut. Mengapa kita tidak benar-benar belajar dari pengalaman pahit sebelumnya tentang bencana alam seperti di aceh dan nias beberapa tahun yang lalu.
Kenyataan ini hendaklah dapat kita jadikan pelajaran yang sangat berharga bagi daerah-daerah lain di seluruh bumi nusantara tercinta ini. Jangan lagi kita bermain-main dengan nyawa manusia. Sudah bisa kita tengarai bahwasanya negeri kita tercinta ini terbentang digugusan daerah yang rawan bencana alam, baik itu erupsi gunung berapi, banjir, tanah longsor, angin puting beliung, terutama gempa bumi dan tsunami.
Selain daripada itu siapa sih yang tahu kapan bencana itu datang, Nobody knows! Maka berangkat dari hal tersebut mari kita bersama-sama menyamakan visi ke depan bahwa kita tidak lagi mengangap enteng dalam hal kesiapan dan penanganan masalah bencana alam. Dalam hal ini kita semua harus melebur jadi satu, baik itu masyarakat, lembaga sosial kemasayarakatan, dan tentunya permerintah pusat dan daerah sebagai pengambil kebijakan.
Anda masih ingat dengan cerita negeri paman sam yang di obrak-abrik oleh Katrina beberapa waktu yang lalu? Nah, negeri super power sekelas amrik-pun kewalahan dengan badai super dahsyat yang menyebabkan sungai-sungai besar di seleruh negara bagian mereka meluap tak terbendung. Apa yang kurang dari amerika, segala teknologi mutakhir terkini sampai peralatan penanganan bencana alam beserta para rescuer-nya dan tetek bengek sarana pendukungya mereka punya. Tetapi apa yang bisa kita lihat, mereka tetap saja keteteran kalang kabut, alih-alih malah terjadi masalah sosial seperti penjarahan toko dan rumah-rumah yang ditinggalkan para korban.
Ada beberapa permasalahan yang harus kita cermati dan kita dalami mengenai managemen penanganan bencana secara umum, hal tersebut diantaranya masalah moralitas, manageman bencana yang efektif dan cepat, data yang akurat, prasarana pendukung seperti, infrasturuktur dan sumberdaya manusia, kebijakan pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan kultur masyarakat setempat yang harus benar-benar kita pahami.
Disisi lain kita juga harus memikirkan tentang para korban. Satu hal yang mereka inginkan, yaitu segera ditangani. Penanganan dalam hal ini, baik itu penganan masalah kesehatan dan masalah logistik bagi pengungsi. Jika hal tersebut mengalami kendala bisa sangat berabe. Seperti contoh penggalan berita berikut yang dapat kami cuplik.
PALEMBANG--MIOL: Tim Sumatera Selatan (Sumsel) Peduli yang mengangkut bantuan untuk korban gempa bumi di Bengkulu, dihadang ratusan warga Desa Suka Marga, Kecamatan Batiknau, Bengkulu Utara.
Dengan menghunus senjata tajam berupa parang, golok dan kayu, penduduk korban gempa ini mencegat iring-iringan kendaraan bantuan bencana Tim Sumsel Peduli. Menurut rencana, Tim Sumsel Peduli akan menyampaikan bantuan bahan makanan kepada Posko Kecamatan Ketaun, sekitar 11 km dari Kecamatan Lais, tempat berdirinya Posko Sumsel Peduli. "Kami minta semua barang di dalam mobil segera diturunkan. Cepat turunkan barangnya kalau mau lewat. Semuanya harus diturunkan. Kami selama ini hanya jadi tempat lewat saja, kami juga lapar, kami juga butuh bantuan," kata Kepala Desa Suka Saidi sebagaimana dituturkan Wakil Koordinator Tim Sumsel Peduli, Sumarwan, yang dihubungi wartawan dari Palembang, Selasa (18/9).
Warga mengaku, hingga hari ke-4 pascagempa belum juga mendapat perhatian dan bantuan dari pemerintah setempat. Bahkan Kepala Desa Saidi mengatakan desa mereka selama ini hanya dilewati tim bantuan yang hendak memberikan bantuan kepada desa lain. (Sumber: Media Indonesia On-Line 18/9/07).
Nah itu dia jadinya jika para pengungsi yang mengalami trauma psikologis karena bencana merasa tidak segera di tangani apa yang sedang mereka butuhkan pasca bencana. Sebenarnya yang kita butuhkan adalah managemen bencana yang efektif dan cepat.
Jika di negeri ini memiliki sistem penanggulangan bencana yang komprehensif, dalam arti mampu menggalang bebagai macam komponen-komponen pendukung yang terlatih dalam konteks penanganan bencana selain pemerintah, misalnya seperti; PMI (Palang Merah Indonesia), ORARI (Organisasi Radio Amatir), PMK (Pemadam Kebakaran), Organisasi kepemudaan (PMR, pecinta alam, pramuka), klub-klub mobil Off Road dan masih banyak lagi komponen bangsa ini yang bisa diajak untuk bersinergi dalam masalah kemanusiaan ini.
Masalah yang sangat krusial yang selalu terjadi ketika bencana terjadi adalah tidak adanya informasi yang up to date karena semua alat komunikasi umum mengalami kerusakan. Hal tersebut menyebabkan segalanya berjalan lamban dan simpang siur informasinya. Selain itu, ketersediaan transportasi juga sangat dibutuhkan, mengingat kebutuhan logistik harus segera digelontorkan kepada seluruh korban, apalagi para korban yang berada di daerah terpencil dan akses transportasinya hancur oleh bencana dapat segera tertolong.
Kalau para pebisnis franchaise baru-baru ini memiliki strategi dagang One Stop Shopping agar para pelangganya tidak lari kelain tempat untuk mencari kebutuhanya, karena seluruh kebutuhan yang mereka inginkan semuanya ada di tempat itu. Mengapa kita tidak bisa membuat manajemen bencana “One Stop Disaster Call” sehingga ketika bencana itu datang dengan hanya menekan satu tombol saja kita bisa memobilisasi seluruh komponen tanggap darurat yang ada secara cepat.
Membangun rooting management seperti ini bukan mustahil untuk kita buat. Satu hal yang sangat dibutuhkan untuk membangunnya, yaitu Political Will dari pemerintah sendiri. Ketika kita sudah memiliki kerja sama yang sinergis dengan visi yang sama yaitu, menyelamatkan jiwa manusia. Niscaya lambanya penanganan korban bencana, korupsi dana korban bencana dapat kita minimalisir. Save This Nation!