Kamis, 06 Maret 2008

Mal Nutrisi Bumi

Moyangku dahulu selalu berwasiat kepada cucu, cicitnya turun temurun. “wahai, cucuku, janganlah engkau sesekali memetik ranting di pohon tua itu, karena dialah yang akan memberikan kehidupan padamu dan keturunanmu kelak", begitu pungkasnya. Makna filosofis yang terkandung dalam wasiat moyangku itu sangat jelas sekali, bahwa pada hakekatnya kita sebagai manusia hendaknya menghargai apa yang telah diberikan Tuhan di bumi ini, dan untuk itu kita tidak bijak jika memberangus segala ciptaan-NYA, akan tetapi harus menjaga dan melestarikan keberadaanya.
Namun, lambat laun wasiat itu sudah mulai hangus menguap di udara. tak pernah sekali terdengar petuah-petuah bijak yang mampu mengetuk bathin manusia untuk senantiasa sadar akan ruang mereka hidup. menghargai ruang tempat mereka hidup, ruang tempat mereka bernafas, ruang manusia untuk berinteraksi, ruang mereka untuk menerima cahaya mentari pagi, yaitu bumi ini.
Konsep hidup yang berangkat dari nilai keseimbangan yang seharusnya menjadi acuan utama manusia di muka bumi ini dalam hakekat kehidupan, tidak diindahkan sama sekali. Manusia modern memiliki karakter berbirahi tinggi sekali, dalam hal keangkuhan maupun dalam hal menguasai, baik itu antar sesama manusia, mahluk hidup yang lain, apa lagi dengan lingkungan tempat mereka hidup.
Bumi kita yang semakin tua ini seharusnya kita perlakukan dengan lebih. karena bumu adalah salah satunya tempat hidup bagi manusia, masih belum ada planet lain yang bisa dan layak untuk ditinggali manusia. namun bagai mana perlakuan manusia terhadap bumu sampai dekade ini? nihil alias nonsense. terus saja setiap hari manusia mengeksploitasi bumi secara sporadis, atas nama pembangunan teknologi millenium, pembangunan perekonomian abad 21 maupun atas dasar kekuasaan.
Manusia modern, sering kali memiliki perangai buruk dalam melakukan sesuatu. Lempar batu sembunyi tangan, misalnya sampah teknologi yang mereka buat di negara mereka, tatkala suah menjadi barang usang atau sudah menjadi sampah, akan segera di alihkan kenegara yang lain. dengan alasan negara lain membutuhkan materi bahan tersebut untuk dijadikan bahan baku barang lain. ekspor impor limbah kini sering kita temui baik di indonesia maupun negara lain. parahnya ekspor maupun impor limbah tersebut pernah diketahui berizin alias legal.
Kalau boleh jujur bumi in sudah semakin rapuh dan lapuk. Entah manusia sudah menyadarinya apa belum, fakta membuktikan jika bumi ini sedang mengalami masa-masa kritis. Jika saya analogikan bumi ini sedang mengalami stroke stadium tiga, setahap lagi berubah menjadi stadium empat dan mengalami stagnasi global. Ibarat manusia yang diperas habis keringatnya dari balita sampai lanjut usia, tanpa diberikan masa-masa rehat, suplemen yang cukup memadai dan waktu untuk menghela nafas.
Itu saja masih belum cukup, nutrisi yang seharusnya diterima bumi ini adalah nutrisi yang super untuk menjaga apa yang ada diatasnya lestari, malah tidak sama ada sama sekali. Nutrisi yang diterima bumi kita selama ini adalah nutrisi sampah atau juga racun, seperti halnya junk food yang setiap harinya dijejalkan kedalam perut bumi. Jikalau kondisi ini terus menerus terjadi, ramalan saya akan terjadinya stagnasi global akan segera saja terwujud. dan niscaya apa yang kita dalam film armageddon besutan sutradara kondang Michael Bay bisa saja terjadi.
Virus modernisasi dan revolusi energi sekarang ini memang memiliki plus dan minus. Hal yang mengerikan adalah jika kita tidak bisa berlaku wise terhadap modernisasi itu sendiri. coba kita llihat negara-negara adikuasa sekarang ini, mereka sudah tidak lagi mau menengok kanan kiri dengan apa yang telah mereka lakukan terhadap bumi ini semisal dalam konteks lingkungan hidup dan pengelolaan energi. Asal kebutuhan mereka terpenuhi dan negara lain masih bisa dikibuli, tetap saja mereka berjalan lempeng tutup mata tutup telinga.
UNCCC yang telah berlangsung di Bali desember tahun lalu bisa saya katakan mandul alias tidak berhasil mencapai substansi utamanya. Kenapa begitu, karena negara-negara besar seperti amerika tidak mau menyepakati poin yang paling mendasar dan mungkin sangat ditunggu-tunggu oleh banyak negara lain, yaitu pengurangan emisi karbon minimal 30%. Padahal para negara adidaya itu adalah penghasil emisi karbon paling banyak di dunia, alih-alih nantinya jelas negara-negara berkembanglah yang akan memanen hasilnya.
Bukan itu saja, negara berkembang diposisikan menjadi cleaning service dan negara pencari dana bagi penyelamatan perubahan iklim dunia ulah negara adidaya. Bagaimana tidak, mereka (negara adidaya.Red) dengan enaknya menghasilkan berjuta-juta metric ton emisi ke udara setiap harinya, malah negara berkembanglah yang tergopoh-gopoh mengeluarkan begitu besar biaya dan berpikir keras untuk menyelamatkan nasib bumi yang teracuni dengan berbagai cara.
Belum lagi kita pernah diingatkan oleh pemecahan rekor dunia pada tahun 2003 silam, bukan sekedar rekor biasa pada tahun itu lubang yang menganga pada lapisan ozon bumi ini sudah mencapai 29 juta kilometer persegi luasnya. Menakjubkan bukan, sekaligus bisa membikin bulukuduk kita berdiri, pasalnya diperkirakan lubang ozon itu akan bertambah lebar setiap minggunya kurang lebih 1 kilometer persegi. Bayangkan bertambah berapa lebarnya sampai dengan tahun 2008 ini. Sungguh mengerikan!
Efek rumah kaca yang timbul karena ulah manusia kini sangat terasa sekali akibatnya. Bencana datang silih berganti, cuaca sangat sukar sekali untuk dapat diprediksi. Bumi yang tua ini sudah mulai rapuh, badannya sudah mulai berangsur-angsur demam tinggi sekali. Akan bahaya sekali jika bumi ini dibiarkan demam tak henti-henti dan semakin meninggi.
Apalagi kalau salah mendiagnosa dengan memberinya nutrisi yang salah, seperti CO2, N2O, dan CH4. CO2 yang umumnya dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (batubara, BBM, dan gas) di berbagai sektor (industri, transportasi, dan rumah tangga). Kebakaran hutan penghasil CO2 yang sangat besar. CH4 yang umumnya dihasilkan dari timbunan sampah, perubahan tata guna lahan dan kehutanan, pertanian, dan sektor energi dan N2O umumnya dihasilkan dari sektor pertanian (pemanfaatan pupuk dan praktek pertanian).
Manusia bak seorang anak atau seorang dokter yang harus selalu menjaga dan merawat ibunya yang sudah semakin tua, yaitu ibu bumi. Kalau kita lupa atau kalau kita lalai menjaganya (Bumi.red) seperti kelalaian salah memberi nutrisi kepada sang ibu, hingga sampai menimbulkan kematian sang ibu, kitalah manusialah yang patut untuk disalahkan.
Apa konsekuensinya? Jelas kita akan diberi hukuman. Hukuman seperti apa? Anda semua sudah bisa menebak kan? Malfungsi bumi pasti akan mendera kita. Apa jadinya jika sinar matahari tanpa tedeng aling-aling merangsek masuk ke bumi? Apajadinya, jika sumur-sumur kita berisi berliter-liter debu? Apajadinya jika tanaman yang kita tanam tumbuh kerdil? Apajadinya, apajadinya dan masih banya lagi yang lain.
Semoga memang saya ini hanya orang yang benar-benar paranoid, maksudnya semua pemikiran-pemikiran saya salah dan hal itu tidak terjadi. Semoga bumi yang saya cinta ini tidak segera menemui titik nadirnya. Saya ingin kelak cucu cicit saya masih bisa merasakan keberadaan bumi yang saya huni sekarang ini. SAVE THE WORLD NOW!


@Penulis adalah redaktur pelaksana Majalah ProVisi